Setelah perjalanan panjang, kini aku terduduk diam di tepi jalan.
Kakiku lelah dan berdarah-darah melalui ratusan kilometer menuju titik bahagia.
Badanku mulai kehabisan tenaganya untuk selalu bertemu dengan orang baru, untuk selalu terlihat baik-baik saja, untuk selalu ceria seakan tak ada yang sedang terjadi setiap harinya.
Aku si keras kepala ini tetap aja bersikeras untuk selalu bahagia seorang diri.
Ku jalani semua hidupku sendiri.
Menyemangati diri sendiri,
Jatuh dan membangunkan diriku sendiri ,
Dan lagi, kini aku mulai mengerti mengapa Tuhan membiarkan orang-orang yang mulai aku cintai itu perlahan pergi.
Tentang jejak yang mulai terhapus,
Tentang kenangan yang mulai padam,
Dan semua tentang mu yang mulai ku lupakan perlahan.
Aku si keras kepala ini selalu bertaruh dengan waktu.
Keadaan yang tak mungkin ku putar balik itu memaksaku untuk melakukan ini dan itu.
Semuanya karena aku. Karena diriku.
Aku tak bisa terus-terusan hidup di masa lalu yang perlahan membunuhku.
Semua tentang mu.
Tentang baik dan burukmu.
Tentang dirimu sekecil apapun itu, aku tau.
Kamu tau apa yang membuatku jatuh begitu dalam tentang mu?
Kamu itu keras kepala. Dan aku sadar akupun memiliki sifat yang sama sepertimu.
Itulah mengapa aku yakin Tuhan tidak mempersatukan kita.
Apa jadinya jika dua manusia yang memiliki ego setinggi langit itu bersatu?
Karena itu, aku si keras kepala ini mulai mengerti, tentang apa-apa yang Tuhan izinkan dan larang.
Tentang dua manusia yang tak pernah bersatu,
Tentang perjalanan yang searah tetapi berbeda tujuan,
Tentang kamu yang tak benar-benar bisa aku lupakan,
Dan tentang aku yang sedang mencoba untuk sembuh perlahan.
Ternyata merekalakanmu adalah satu-satunya keinginan Tuhan yang sangat ingin di segerakan.
Dan setelah perjalanan panjang ini aku sadar.
Bahwa tidak ada yang benar-benar sempurna.
Dunia itu maya.
Kita yang nyata.
Walau nyatanya kau tidak di ditakdirkan untuk ku.
Setelah perjalanan panjang ini aku sadar, nyatanya memang ada cara lain untuk sembuh.
Dan hanya aku yang dapat menyembuhkannya.
Dan setelah perjalanan panjang ini aku sadar, aku harus belajar untuk lebih menerima segala kekurangan.
Karena hidup ini bukan tentang aku dan diriku.
Tapi hidup ini tentang kita.
Kita yang sama-sama berjuang untuk bahagia.
Kamu membahagiakannya,
Dan aku yang bahagia melihat mu bahagia.
Selamat menuju hari bahagia mu.
Aku turut bahagia.
Teruntuk, tanpa nama.
Dari aku si pengagum rahasia.
Komentar
Posting Komentar