Hidup



Semakin dewasa, kini aku semakin sadar,
Bahwa hidup ini, ya memang benar-benar tentang diri masing-masing.
Udah saatnya sadar bahwa kebahagiaan itu tanggung jawab diri masing-masing.
Kita harus mulai terbiasa untuk menciptakan definisi bahagia versi kita sendiri.

Kalo dulu, aku bahagia karena teman-teman yang selalu ada,
Bisa kumpul dan nikmatin waktu sama-sama,
Bisa selalu mengisi satu sama lain,
Aku bahagia karena aku merasa dianggap ada.

Tapi enggak untuk sekarang.
Terkadang Tuhan itu kasih sesuatu dengan hal yang nggak kita duga-duga.
Tentang sedih dan senang salam satu waktu, datang dan pergi secara bersamaan, lahir dan meninggal secara berdekatan, dan lainnya.

Tapi justru itu yang bikin aku semakin sadar, bahwa nggak ada yang benar-benar kekal di bumi ini selain kematian.

Hidup juga yang ngajarin tentang perjuangan dan kekecewaan.


Aku yang pernah berjuang mati-matian untuk orang lain, sampai aku lupa dengan diri aku sendiri, bahwa aku juga butuh hidup, bahwa aku juga butuh bahagia, bahwa aku juga butuh dihargai, dan mereka mungkin lupa bahwa aku juga manusia biasa yang  masih hidup di bumi ini.

Aku berjuang agar selalu ada untuk orang lain yang ternyata nggak pernah hadir disaat-saat bahagia aku.
Padahal yang aku butuhin bukan kemewahan, aku cuma butuh kehadiran. Nggak lebih.


“kalo gitu kamu pamrih dong namanya?”



Apa aku salah kalo aku  berharap ada orang-orang yang aku anggap spesial aku  itu hadir di hari-hari bahagia aku?
Apa aku salah kalo aku berharap mereka hanya sekedar hadir?
Apa aku salah kalo aku cuma ingin mereka juga ada di hari-hari bahagia aku, bukan disaat aku terpuruk?
Atau aku yang terlalu berlebihan menaruh ekspetasi yang terlalu tinggi sama mereka?

Sekarang, hari-hari yang aku anggap hari spesial itu udah nggak ada lagi.
Dan mungkin nggak akan pernah ada.

Hari yang bahkan mungkin cuma sekali terjadi dalam seumur hidup aku.
Hari yang mungkin bisa merubah hidup aku.
Hari-hari yang mungkin aku tunggu-tunggu setelah perjalanan panjang aku.
Hari-hari yang mungkin paling berarti buat hidup aku.

Tapi mereka nggak pernah ada.
Mungkin bagi mereka hari itu bukanlah hari yang spesial.

Mereka juga nggak pernah sadar, bahwa akupun melakukan semua ini untuk mereka juga.
Aku berjuang mati-matian untuk orang yang sedikitpun nggak pernah bisa menghargai aku.
Aku berjuang mati-matian untuk orang yang sedikitpun nggak pernah merasa bangga sama kehadiran aku.
Aku berjuang mati-matian untuk orang yang mungkin nggak ingin diperjuangin sama sekali.




Hidup yang udah ngajarin aku tentang banyak hal.
Bahwa kita semua hanyalah manusia biasa.
Kita semua punya hidup masing-masing.
Kita semua punya harapan dan keinginan masing-masing.
Kita semua punya masalah masing-masing, yang nggak harus semua orang tau.



Hidup yang udah menyadarkan aku akan kehidupan yang sebenarnya. 
Bahwa hidup ini bukan tentang aku.
Bahwa hidup ini  bukan tentang mereka.
Bahwa hidup ini bukan tentang orang lain.
Tapi hidup ini tentang diri masing-masing.



Sedekat apapun kita, pasti akan ada satu sisi yang tak ia tunjukan kepada orang lain.
Karena nggak ada yang lebih deket selain diri kita sendiri.
Nggak ada yang lebih deket selain kita dengan Tuhan.


Semua pengalaman itu yang membuat aku seperti ini.
Bahwa ternyata hidup memang tentang perubahan.
Semua akan berubah, dan manusia dituntut untuk terbiasa dengan perubahan itu.



Terimakasih telah  bertahan hidup sejuah ini.
Terimakasih untuk selalu kuat dan tidak menyerah dengan keadaan.
Terimakasih telah berjuang bersama, hidup bersama, dan menikmati setiap detik untuk terus tumbuh bersama.

Maafin aku yang nggak pernah menghargai diri sendiri,
Maafin aku yang pernah menggantungkan kebahagiaan diri sendiri kepada orang lain,
Maafin aku yang terkadang menyalahkan diri sendiri,
Maafin aku yang selalu menuntut lebih dan lebih,
Maafin aku yang sering kecewa terhadap diri sendiri,
Maafin aku yang nggak pernah ngebahagiain  kamu.



Terimakasih untuk hidup selama 23 tahun ini.
Sekarang aku bersyukur untuk kamu yang selalu ada, selalu berjuang bersama, dan tumbuh bersama dalam diri aku.
Bertahan hidup ya, bertahan untuk diri kita sediri.

Nggak papa, nggak perlu untuk selalu mikirin orang lain.
Kamu hidup sama  aku, bertahanlah untuk aku, bukan orang lain.



Aku tau kamu sedih, hancur, marah, kecewa.
Dan kamu selalu memendam itu semua selama kamu hidup.
Sekarang, kamu boleh luapin itu semua.

Kamu boleh marah,
Kamu boleh sedih, marah, kecewa sama orang  lain. Dan itu wajar.

Kamu nggak perlu ngebahagiain orang lain, kalo diri kamu sendiri aja nggak bahagia.
Kamu nggak perku selalu ada untuk orang lain.
Kamu nggak  bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.


Inget ya, ini hidup kamu.
Orang lain nggak berhak mengatur hidup kamu.
Hidup kamu,ya kamu yang tentuin, bukan orang lain.

Mari kita terus hidup,
Mari kita ciptakan bahagia versi kita sendiri.
Mulai sekarang, aku nggak akan maksa kamu untuk selalu kuat, untuk selalu bahagia, untuk selalu baik-baik aja.
Nggak papa, kalo nanti kamu capek, kamu nggak perlu ngelakuin apapun. Kamu bisa ngelakuin hal-hal yang kamu suka. Kamu boleh makan apapun yang bikin kamu bahagia, belanja apapun yang kamu mau, pergi kemanapun yang kamu suka.
Toh, kamu bekerja untuk hidup kan?
Hidup ini untuk diri kamu sendiri kan?
Untuk apa bekerja mati-matian tapi kamu nggak bisa nikmatin hidup ini?



Ayo  bebaskan diri kamu sebelum kamu menanggung beban dan punya tanggung jawab lain.

Sekarang nggak perlu peduli sama omongan orang lain ya.
Terserah deh orang lain mau bilang kamu cuek, jutek, sombong, gak mau berbaur, nggak asik diajak ngumpul, pendiem, apapun laaahhhh. Halah udah omongan kayak gitu basi.
Kalo kamu emang lebih nyaman sendiri, yaudah jalanin aja. Mau dibilang gapunya temen ya biarin aja. Untuk apa punya temen banyak tapi malah kehilangan diri sendiri?!
Buat apa punya temen banyak  tapi malah nggak jadi diri sendiri?


23 tahun kamu hidup hanya untuk dengerin apa kata orang.
23 tahun kamu hidup hanya untuk bahagiain orang lain.
23 tahun kamu hidup dan nggak pernah menghargai diri kamu sendiri.




Capek ya mendem semuanya terus selama ini?
Maaf ya, maafin kesalahan aku yang dulu.

Kita perbaiki kesalahan itu ya.
Sekarang, kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka, selagi nggak ngerugiin diri sendiri dan orang lain. Enjoy it!

Teruntuk diriku, mungkin tulisan ini nggak akan cukup untuk menggambarkan diri kamu yang sebenarnya.
Sekarang aku cuma ingin kamu bahagia.
Bertahan ya, jangan tinggalin aku sendirian disini. Mari kita sama-sama hidup bersama.

Teruntuk diriku, terimakasih!




Selamat 23 tahun hidup di bumi! Hari ini tepat 1 hari setelah hari kelahiranmu.



Tangerang, 29 juni 2020 (21:57)
Diatas kasur usangmu

Komentar