Menjadi Dewasa


Senin,
Adalah hari dimana yang paling dihindari oleh semua orang.
Hari dimana semua aktivitas seperti biasa dilakukan. Anak-anak yang mulai kembali kesekolah, orangtua yang kembali ke rutinitas pekerjaannya, dan orang-orang yang kembali mengadu nasib demi sesuap nasi untuk menafkahi keluarganya.

Hari dimana jalanan mulai dipadati oleh berbagai kendaraan, berdesakan, dan menghirup polusi yang tentu tidak baik untuk kesehatan.  
Tapi semua itu dilalui demi masa depan. Katanya.

Senja di hari senin kali ini tak seindah biasanya,  ia ditemani jutaan air yang turun dari langit.
Mungkin ia tau bahwa akupun sedang tak baik-baik saja hari ini.

Sambil memegang amplop coklat, aku lebih memilih mengistirahatkan kaki ku yang mulai lelah menelusuri hiruk pikuk Ibu Kota.

Iya, hari ini. Entah keberapa puluh kali aku ditolak oleh mereka yang berada di gedung tinggi.
Ataukah hanya mimpiku saja yang terlalu tinggi? Ah sudahlah…
Tapi ku bilang dalam hati, bahwa suatu hari nanti merekalah yang akan membutuhkan diriku ini setelah kau tolak berkali-kali.
Awas ya, lihat saja nanti!

Ku pandangi langit sore ini, mungkin langit sama sepertiku, ia sedang sendu.
Aku adalah penikmat hujan dan tidak membenci hari senin, tapi entah mengapa untuk kali ini semua berubah. Aku sama seperti yang lain.
Membenci hari senin, dan tidak bahagia atas kedatangan air yang turun dari langit. Terkadang beberapa orang menganggap hujan turun disaat yang tidak tepat. Ternyata benar, kali ini aku merasakannya.

Ku urungkan niat untuk pulang lebih cepat.

Maka setiba nya di stasiun, Ku sandarkan punggungku sambil melihat awan yang sendu itu.
Semua orang sibuk berlalu lalang, dan menuggu kereta tujuannya agar sampai rumah secepatnya.

Tapi tidak dengan ku,

Aku lebih memilih duduk diam dan mengamati keadaan sekitar, entah berapa banyak kereta yang sengaja aku lewatkan begitu saja.

Rasanya aku tidak ingin kembali kerumah secepatnya.

Muak dengan pertanyaan orang-orang yang selalu saja menanyakan bagaimana pekerjaanku setelah selesai studi ku ini. Terlalu banyak ikut campur atas keputusan hidupku, yang bahkan mereka pun tak memberikan kontribusi atas kehidupanku. Cih!

Ternyata menjadi dewasa tidak semenyenangkan yang ku kira.

Dulu yang ada dalam kepala ku adalah lulus kuliah lebih cepat- dapat pekerjaan- kaya raya- dan bahagia.

Ah sudahlah, nyatanya hidup itu tak semudah teori ketika berada di bangku kuliah.

Kemudian ku ambil buku usang yang ku bawa setiap harinya. Ku biarkan jari-jariku menari diatasnya dengan pena yang selalu menemani-nya.

Ternyata, banyak orang dewasa kehilangan kata sejak ia kehilangan rasa. 
Memilih diam, dan lebih banyak mendengar, atau lebih senang memperhatikan keadaan sekitar.

Dibawah bulan yang bulat, ia lebih senang meratapi hidupnya dalam kasur usangnya. 
Memikirkan hari esok yang semakin getir akan permasalahan hidupnya.

Memilih diam dibalik jendela, sambil mengamati setiap gerak tubuh manusia yang senantiasa bersandiwara.
Memikirkan tentang hidup yang tak habis maunya.

Menikmati keramaian kota dalam kesendirian,  sambil memikirkan rasa yang tak kunjung bermuara, tentang hasrat yang semakin menggebu, tentang cita-cita, dan harapan yang ia pikul setiap hari nya.

Hingga lupa sebenarnya, bagaimana cara ia benar benar merasa hidup
#Catatansibogel

‘jadi bagaimana cara aku benar-benar merasa hidup dan sebenarnya untuk apa aku hidup?’ gumamku dalam hati

Komentar