Aku
telah patah bertahun-tahun lamanya
Aku
muak dengan kata cinta dan semacamnya
Aku
lelah dengan semua janji dan teman-temannya
Ketika
ku sedang lelah-lelahnya dengan semua itu,
Kau
memberikan ku sebuah pundak untuk bersandar
Kamu
datang dengan perlahan
Setelah
itu, aku mulai menyadari, kamu pun merasakan lelah yang sama dengan ku
Hatimu
masih untuknya, yang sedang bahagia diluar sana,
Pun
aku yang masih merasakan hancur yang sama
Kita
sama sama hancur
Sama
sama terluka
Sama
sama patah
Dan
kita masih sama sama bersandar dalam luka
Mengapa
kita tak saling mencinta saja?
Ah
sudahlah perkara cinta manusia itu rumit.
Jika
kau terlalu benci, maka cinta akan muncul di hatimu. Pun sebaliknya.
Maka
sejak saat itu, aku tak ingin menaruh sepenuhnya hatiku untuk siapapun.
Ku
tatap mata mu dalam - dalam.
Ternyata
benar.
Pikiran
mu kosong, dan hati mu terluka
Aku
tidak ingin ikut campur atas lukamu
Dan
aku tidak ingin terlihat sedang merasakan hal yang sama dengan mu.
Tapi....
Boleh
kah aku sedikit mengobati luka itu?
Sehancur
apapun aku, aku tak pernah tega melihat orang lain lebih hancur.
Dan ku
coba untuk mengobati luka itu perlahan dan perlahan
Namun,
perlahan juga kau merebut duniaku
Sikap
mu tak seperti biasanya kepada ku.
Ah
atau mungkin itu hanya perasaan ku saja?
Kamu
itu ambigu
Kau
tak pernah meminta ku untuk menetap
Dan akupun
tak mau semakin berharap
Sikapmu
terlalu manis, untuk hati yang sedang teriris
Hatiku
masih dengannya, namun otak ku mulai berfikir tentang dirimu.
Rasa
macam apa ini?
Aku
tidak ingin kau menjadi penyebab pertengkaran hati dan otak ku.
Belum
pun pulih dengan luka yang lalu, kini kau mulai memercikan api pertikaian
keduanya.
Entah
lah aku lelah dengan semuanya.
Berilah
aku istirahat agar semuanya berjalan damai.
Tanpa
ada pertikaian lagi.
Bicaralah
wahai makhluk ambigu.
Kini
ku butuh suara mu.
Selasa,
8 Agustus 2017
Komentar
Posting Komentar